Aku suka menggabar, walau sering tak serius dan suka ngasal tapi aku menikmatinya. Menggamabar secara manual maupun digital aku sikat saja. Toh keduanya menyenangkan. Persoal gaya aku lebih suka menyesuaikannya dengan media menggambarnya. Kalau mau realis,lebih nyaman pakai kertas dan pensil, jadinya sketsa realis. Media kuas, lebih enak watercolor meski masih sulit menjinakkan cat dan kuasnya hehehehe. Gaya manga enaknya pakai media digital, karena lebih mudah dalam proses pewarnaan dan lebih sempurna hasilnya. Kalau udah pakai digital aku suka pakai softwear PaintoolSai, tapi kalau pakai SAI kamu kudu paket hardwear wacom (pen tablet). Nah karna aku gak punya wacom pribadi, aku lebih sering pakek softwear Bamboo pepper, yang ku-instal di tablet Asus kesayanganku.
Sabtu, 31 Januari 2015
Sabtu, 08 November 2014
Rayuan Pulau Kelapa
Unknown
04.03
No comments
Indonesia kawan, negeriku. Sebuah negara kepulauan yang akan memberimu sambutan tarian dari pucuk-pucuk niur. Kalau aku bercerita tentang potongan surga dari negeriku kutahu kau bakal iri denganku. Tapi tenangn kawan, aku tak akan berpelit cerita untuk menggambarkan potongan-potongan surga yang sudah pernah kutapaki.
Meski belum banyak tempat yang sudah kujelajah, paling tidak kali ini aku akan bercerita tentang rayuan pulau kelapa lewat gambar-gambar yang sempat kuabadikan.
1. Teluk Tanjung, Pulau Jemaja, Kepri
Melalui jalan menanjak yang kemudian membawamu ke dunia lain. Gambar ini diambil dari atas tanjakan jalan. Saat siang hari dengan cuaca cerah kamu bisa melihat laut biru yang dangkal dengan trumbukarangnya.
2.Kota Tarempa, Kepri
Tak banyak kota di Indonesia yang menyajikan kota dengan konsep terapung. Bagaimana tidak, medan wilayah pulau dengan material terjal berbatu yang sulit ditaklukkan membuat perairan laut yang dangkal menjadi arena yang lebih mudah dijinakkan. Alhasil, kota terapaung ini tercipta, berjejer rapi ditepian pulau, menyambung daratan berbukit terjal.
3. Pulau Tulai dilihat dari dermaga Pulau Berhala, kec. Jemaja, Kepri
Tak bakal pernah bosan menikmati pemandangan matahari terbenam dari dermaga ini. Setiap kamu datang ke sini ada saja suasana yang berubah.
4. Pulau Ayam
Meski pulaunya kecil dan tak berpenghuni, tapi pemandangan pulau dan lautnya keren banget cuy.
5. Air Terjun Temberun di belakang kota Tarempa
Air terjun ini bisa kamu daki, sesampai di atas kamu bisa nikmati pemandangan teluk yang masih bersih.
6. Pantai Padang Melang, kec. Jemaja, Kepri
Kata orang pantai ini lebih panjang dari Pantai Kute di Bali. Kamu tak akan menemukan matahari terbenam di pantai ini, tapi sebagai penggantinya kamu bisa menikmati purnama yang muncul di senja hari. Pasir putih yang padat sering dipakai para remaja di sekitar pantai sebagai arena balapan.
Jumat, 07 November 2014
Permulaan
Unknown
19.40
No comments
![]() |
Deru
mesin pesawat dimatikan. Langit telah bertabur bintang, petualangan kami pun
dimulai. Tanjung Pinang, awal kami menapaki langkah di Provinsi Kepulauan Riau,
tapi hanya pemberhentian sementara. Saat matahari pagi baru bersinar temaram di
langit Tuhan, kami sudah bergegas menuju pelabuhan, menunggu Binaiya yang akan
membawa kami lebih jauh lagi ke pulau atas (sebut mereka).
![]() |
Tarempa, Kota Kabupaten Kepulauan Anambas, pulau pertama yang kami jamah di kabupaten penempatan. Atmosfer subuh yang dingin, langit yang perlahan memancarkan cahaya, siluet rombongan burung layang-layang menghiasi langit kota, mengantar langkahku turun dari Binaiya. Aroma yodium yang samar-samar menggelitik hidungku menjadi aroma pertama yang kubaui dari kota pelabuhan ini. Bukit-bukit yang menjulang masih penuh dengan hutan dan semak belukar. Lambat laun, aku baru tahu bahwa di balik belukar itu semua adalah bongkahan-bongkahan batu besar saling menindih yang diselangi tanah hitam yang subur.
Ketika mata ini menelusuri
pesisir pantai maka bangunan-bangunan panggung berderet rapi di sepanjang
pantai, mereka menyebutnya rumah laut. Rumah laut telah menjadi bangunan khas daerah
kepulauan. Kota berkembang pesat di tepian pantai dan bukit-bukit batu masih
dibiarkan diam membisu, seolah tak dijamah.

Kunjungan pertama di Kota Tarempa
ini hanya berlangsung dua hari satu malam.Waktu yang dirasa cukup untuk melepas
penat perjalanan jauh sekaligus menghadiri acara penyambutan kami oleh
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas. Waktu senggang kami pakai untuk
menapaki jembatan-jembatan laut yang memagari perairan pantai pulau ini.
Membaui aroma pantai dan menyegarkan pandangan dengan lautan biru yang tenang.
Kemudian sejenak menghentikan langkah untuk menikmati langit yang menjadi
jingga saat mengantarkan matahari kembali ke peraduannya.

Keesokan harinya setelah acara penyambutan
usai dengan makan siang bersama. Kami berkemas-kemas, pompong sudah menunggu untuk
mengantar kami ke masing-masing kecamatan penempatan. Begitu juga dengan
pompong yang kutumpangi, ia akan melaju
ke Pulau Jemaja yang jauh di ujung Kabupaten Kep. Anambas. Siap
mengantar kami menyambut kehidupan baru sebagai
anak pulau. Lima jam perjalanan mengarungi Laut Cina Selatan dengan pompong
menjadi pembuka perjalananku dalam membelah riak-riak ombak ini.
Blog Lama dalam Blog Baru
Unknown
04.55
No comments
Ini blog baruku karena blog lama (http://syedaramarza.blogspot.com/), telah kehilangan semua anak kunci untuk aksesnya.Sebenarnya tak semua anak kunci hilang, tapi karena perubahan sistem dan aku yang cuek bebek dengan pemberitahuan dari sistem ditambah sikon kurang mendukung jadi deh semua anak kuncinya gak bisa dipakek. Sedih sih, tapi yang penting tak kehilangan cara untuk terus berkarya. Makanya aku buat blog baru ini.
Aku namai "Bufet Marza" karena ini akan jadi lemari pajangan untuk semua karya-karya aku, baik tulisan maupun gambar.Selamat datang di depan bufetku, semoga kalian betah berlama-lama di sini. :)
Aku namai "Bufet Marza" karena ini akan jadi lemari pajangan untuk semua karya-karya aku, baik tulisan maupun gambar.Selamat datang di depan bufetku, semoga kalian betah berlama-lama di sini. :)
Langganan:
Postingan (Atom)




