Jumat, 07 November 2014

Permulaan


Deru mesin pesawat dimatikan. Langit telah bertabur bintang, petualangan kami pun dimulai. Tanjung Pinang, awal kami menapaki langkah di Provinsi Kepulauan Riau, tapi hanya pemberhentian sementara. Saat matahari pagi baru bersinar temaram di langit Tuhan, kami sudah bergegas menuju pelabuhan, menunggu Binaiya yang akan membawa kami lebih jauh lagi ke pulau atas (sebut mereka).




Kami memiliki  misi utama untuk ke pulau sedangkan misi-misi lainnya merupakan bonus. Misi utama kami untuk mencerdaskan putra-putri bangsa lewat salah satu program pemerintah SM-3T (Sarjana Mendidik Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal). Misi utama akan saya ceritakan di lain kesempatan karena kali ini saya hanya ingin menceritakan misi bonus, liburan di pulau-pulau.

Tarempa, Kota Kabupaten Kepulauan Anambas, pulau pertama yang kami jamah di kabupaten penempatan. Atmosfer subuh yang dingin, langit yang perlahan memancarkan cahaya, siluet rombongan burung layang-layang menghiasi langit kota, mengantar langkahku turun dari Binaiya. Aroma yodium yang samar-samar menggelitik hidungku menjadi aroma pertama yang kubaui dari kota pelabuhan ini. Bukit-bukit yang menjulang masih penuh dengan hutan dan semak belukar. Lambat laun, aku baru tahu  bahwa di balik belukar itu semua adalah bongkahan-bongkahan batu besar saling menindih yang diselangi tanah hitam yang subur.
Ketika mata ini menelusuri pesisir pantai maka bangunan-bangunan panggung berderet rapi di sepanjang pantai, mereka menyebutnya rumah laut. Rumah laut telah menjadi bangunan khas daerah kepulauan. Kota berkembang pesat di tepian pantai dan bukit-bukit batu masih dibiarkan diam membisu, seolah tak dijamah.

 
Kunjungan pertama di Kota Tarempa ini hanya berlangsung dua hari satu malam.Waktu yang dirasa cukup untuk melepas penat perjalanan jauh sekaligus menghadiri acara penyambutan kami oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas. Waktu senggang kami pakai untuk menapaki jembatan-jembatan laut yang memagari perairan pantai pulau ini. Membaui aroma pantai dan menyegarkan pandangan dengan lautan biru yang tenang. Kemudian sejenak menghentikan langkah untuk menikmati langit yang menjadi jingga saat mengantarkan matahari kembali ke peraduannya.

Keesokan harinya setelah acara penyambutan usai dengan makan siang bersama. Kami  berkemas-kemas, pompong sudah menunggu untuk mengantar kami ke masing-masing kecamatan penempatan. Begitu juga dengan pompong yang kutumpangi, ia akan melaju  ke Pulau Jemaja yang jauh di ujung Kabupaten Kep. Anambas. Siap mengantar kami menyambut kehidupan  baru sebagai anak pulau. Lima jam perjalanan mengarungi Laut Cina Selatan dengan pompong menjadi pembuka perjalananku dalam membelah riak-riak ombak ini.
                                                                                                                                            



0 komentar:

Posting Komentar