![]() |
Deru
mesin pesawat dimatikan. Langit telah bertabur bintang, petualangan kami pun
dimulai. Tanjung Pinang, awal kami menapaki langkah di Provinsi Kepulauan Riau,
tapi hanya pemberhentian sementara. Saat matahari pagi baru bersinar temaram di
langit Tuhan, kami sudah bergegas menuju pelabuhan, menunggu Binaiya yang akan
membawa kami lebih jauh lagi ke pulau atas (sebut mereka).
![]() |
Tarempa, Kota Kabupaten Kepulauan Anambas, pulau pertama yang kami jamah di kabupaten penempatan. Atmosfer subuh yang dingin, langit yang perlahan memancarkan cahaya, siluet rombongan burung layang-layang menghiasi langit kota, mengantar langkahku turun dari Binaiya. Aroma yodium yang samar-samar menggelitik hidungku menjadi aroma pertama yang kubaui dari kota pelabuhan ini. Bukit-bukit yang menjulang masih penuh dengan hutan dan semak belukar. Lambat laun, aku baru tahu bahwa di balik belukar itu semua adalah bongkahan-bongkahan batu besar saling menindih yang diselangi tanah hitam yang subur.
Ketika mata ini menelusuri
pesisir pantai maka bangunan-bangunan panggung berderet rapi di sepanjang
pantai, mereka menyebutnya rumah laut. Rumah laut telah menjadi bangunan khas daerah
kepulauan. Kota berkembang pesat di tepian pantai dan bukit-bukit batu masih
dibiarkan diam membisu, seolah tak dijamah.

Kunjungan pertama di Kota Tarempa
ini hanya berlangsung dua hari satu malam.Waktu yang dirasa cukup untuk melepas
penat perjalanan jauh sekaligus menghadiri acara penyambutan kami oleh
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas. Waktu senggang kami pakai untuk
menapaki jembatan-jembatan laut yang memagari perairan pantai pulau ini.
Membaui aroma pantai dan menyegarkan pandangan dengan lautan biru yang tenang.
Kemudian sejenak menghentikan langkah untuk menikmati langit yang menjadi
jingga saat mengantarkan matahari kembali ke peraduannya.

Keesokan harinya setelah acara penyambutan
usai dengan makan siang bersama. Kami berkemas-kemas, pompong sudah menunggu untuk
mengantar kami ke masing-masing kecamatan penempatan. Begitu juga dengan
pompong yang kutumpangi, ia akan melaju
ke Pulau Jemaja yang jauh di ujung Kabupaten Kep. Anambas. Siap
mengantar kami menyambut kehidupan baru sebagai
anak pulau. Lima jam perjalanan mengarungi Laut Cina Selatan dengan pompong
menjadi pembuka perjalananku dalam membelah riak-riak ombak ini.


0 komentar:
Posting Komentar